Kubu Raya (27/01/2026) — Forest and land fires have again broken out in Kubu Raya Regency, West Kalimantan. The incident was reported in Limbung Village, specifically in the area behind Supadio International Airport, on Monday, 26 January 2026. The fire was classified as extensive and hazardous, as it involved peatland burning both at the surface and in subsurface layers.
The fire location lies in close proximity to a nationally vital object, Supadio Airport, raising serious concerns over public safety and the continuity of flight operations. Thick smoke generated by the burning peat reportedly spread to several areas, including Pontianak City, potentially reducing visibility and deteriorating air quality.
In response to the situation, the Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) of West Kalimantan, in coordination with law enforcement agencies, moved swiftly to carry out firefighting operations. The joint task force included MDMC PWM West Kalimantan, the West Kalimantan Regional Police, Kubu Raya Police, and the Sungai Raya Police Sector. Fire suppression efforts were concentrated in the areas behind the airport as well as the Perdana area on the outskirts of Pontianak City, which was also identified as affected.
Head of the MDMC West Kalimantan Disaster Resilience Agency, Baruni Hendri, stressed that fires occurring near vital infrastructure such as airports require immediate and serious attention. According to him, such incidents not only pose environmental risks but also have direct implications for public safety and the stability of air transportation activities.
“Vital objects such as airports must be responded to with utmost seriousness. Smoke from peatland fires is extremely dangerous for surrounding communities and can potentially disrupt flight operations,” he said.

Baruni explained that MDMC has been conducting field responses for three consecutive days. MDMC teams were actively deployed starting on Thursday and Friday, continued operations on Saturday, and resumed response activities on Monday. On Sunday, teams focused on repairing and checking firefighting equipment to ensure operational readiness in the field.
“We carried out sustained response efforts. Thursday, Friday, and Saturday were focused on firefighting, Sunday on equipment maintenance, and today we are continuing monitoring and providing suppression support as needed,” he explained.
The involvement of peatland significantly complicated firefighting operations. The fire was not confined to the surface but also spread underground, requiring specialized techniques and extended time to ensure the fire was fully extinguished and did not reignite.
Based on monitoring data from the Forest and Land Fire Control Information System (Sipongi) operated by the Forestry Service, several hotspots were detected in the Kubu Raya area, including locations behind Supadio Airport. This satellite data served as a basis for inter-agency coordination in determining priority areas for fire suppression.
Kubu Raya Police were also actively involved in securing the affected areas and conducting preliminary investigations into the cause of the fire. Law enforcement officers ensured that security measures were implemented to prevent the fire from spreading further and to mitigate potential disruptions to community activities and aviation operations.
Meanwhile, the impact of smoke was felt not only by residents near Limbung Village but also extended into Pontianak City. This situation heightened concerns, given that forest and land fires frequently recur during the dry season, particularly in peatland-dominated regions.
MDMC West Kalimantan confirmed that intensive monitoring of the fire site is still ongoing. These efforts aim to ensure that no new hotspots emerge and to anticipate the possibility of flare-ups, considering the highly flammable nature of peatland.
Baruni also emphasized the importance of increasing public awareness in preventing forest and land fires, especially in peatland-prone areas. He noted that collaboration among communities, government authorities, security forces, and humanitarian organizations is crucial to reducing the risk of recurring fires in the future.
“Today, we are still conducting monitoring. Our hope is that the fire can be fully controlled and that communities will no longer be continuously affected by smoke,” he concluded.

Karhutla Dekat Bandara Supadio, MDMC Lakukan Respons Darurat
Kubu Raya (27/01/2026)— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Peristiwa ini terpantau terjadi di Desa Limbung, tepatnya di kawasan belakang Bandara Internasional Supadio, pada Senin, 26 Januari 2026. Kebakaran tersebut tergolong luas dan berbahaya karena melibatkan lahan gambut yang terbakar baik dari lapisan bawah maupun permukaan atas.
Lokasi kebakaran berada sangat dekat dengan objek vital nasional, yakni Bandara Supadio, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan masyarakat sekitar dan kelancaran aktivitas penerbangan. Asap tebal yang dihasilkan dari pembakaran gambut dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Kota Pontianak, dan berpotensi mengganggu jarak pandang serta kualitas udara.
Merespons kondisi tersebut, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wilayah Kalimantan Barat bersama aparat kepolisian bergerak cepat melakukan operasi pemadaman. Tim gabungan yang terlibat dalam upaya penanggulangan antara lain MDMC PWM Kalbar, Polda Kalimantan Barat, Polres Kubu Raya, serta Polsek Sungai Raya. Upaya pemadaman difokuskan pada area kebakaran di belakang bandara dan wilayah Perdana ujung di Kota Pontianak yang juga teridentifikasi terdampak.
Ketua Lembaga Resiliensi Bencana MDMC Kalimantan Barat, Baruni Hendri, menegaskan bahwa kebakaran di sekitar objek vital seperti bandara harus mendapatkan perhatian dan respons cepat. Menurutnya, kebakaran tidak hanya berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan publik dan stabilitas aktivitas transportasi udara.
“Objek vital seperti bandara harus direspons secara serius. Asap dari kebakaran gambut sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar dan berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan,” ujarnya.
Baruni menjelaskan bahwa MDMC telah melakukan respons lapangan selama tiga hari berturut-turut. Tim MDMC mulai terlibat aktif sejak Kamis dan Jumat, dilanjutkan pada Sabtu, kemudian kembali melakukan respons lanjutan pada Senin. Sementara itu, pada hari Minggu, tim melakukan perbaikan dan pengecekan peralatan pemadaman untuk memastikan kesiapan operasional di lapangan.
“Kami melakukan respons berkelanjutan. Kamis, Jumat, dan Sabtu fokus pada pemadaman, Minggu perbaikan alat, dan hari ini kami kembali melakukan monitoring serta dukungan pemadaman jika diperlukan,” jelasnya.
Kebakaran yang terjadi di lahan gambut membuat proses pemadaman menjadi lebih kompleks. Api tidak hanya menyala di permukaan, tetapi juga menjalar di lapisan bawah tanah, sehingga memerlukan teknik dan waktu lebih lama untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul.
Berdasarkan pemantauan dari Sistem Informasi Pengendalian Operasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) milik Dinas Kehutanan, terdeteksi sejumlah titik api di kawasan Kubu Raya, termasuk di sekitar belakang Bandara Supadio. Data satelit ini menjadi dasar koordinasi lintas instansi dalam menentukan lokasi prioritas pemadaman.
Polres Kubu Raya terlibat aktif dalam upaya pengamanan lokasi serta penyelidikan awal terkait penyebab kebakaran. Aparat kepolisian memastikan bahwa langkah-langkah pengamanan dilakukan untuk mencegah meluasnya kebakaran dan mengantisipasi potensi gangguan terhadap aktivitas masyarakat maupun penerbangan.
Sementara itu, dampak asap dirasakan tidak hanya oleh warga di sekitar Desa Limbung, tetapi juga meluas hingga ke Kota Pontianak. Kondisi ini menambah kekhawatiran mengingat kebakaran hutan dan lahan kerap berulang setiap musim kemarau, terutama di wilayah yang didominasi lahan gambut.
MDMC Kalimantan Barat menegaskan bahwa hingga saat ini tim masih melakukan monitoring intensif di lokasi kebakaran. Upaya ini dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api baru serta mengantisipasi kemungkinan kebakaran susulan, mengingat karakteristik gambut yang mudah kembali terbakar.
Baruni juga mengingatkan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat dalam mencegah karhutla, khususnya di wilayah rawan gambut. Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan organisasi kemanusiaan menjadi kunci utama dalam menekan risiko kebakaran berulang di masa mendatang.
“Hari ini kami masih melakukan monitoring. Harapannya, api benar-benar bisa dikendalikan dan masyarakat tidak terus-menerus terdampak asap,” pungkasnya.