Reflections from Jonathan Patz’s Lecture in the PREP Program, January 12, 2026
Climate change is often discussed as an environmental or energy issue. However, in a lecture delivered on January 12, 2026, as part of the Preparing Religious Environmental Plans (PREP) program—an international initiative hosted by the Loka Initiative at the University of Wisconsin–Madison—this perspective was decisively reframed: climate change is a public health crisis as well as one of the greatest ethical dilemmas of our time.
The lecture featured Jonathan Patz, a leading professor at the University of Wisconsin–Madison, founder of the Global Health Institute, and a long-serving Lead Author for the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)—a contribution that helped earn the IPCC the 2007 Nobel Peace Prize. With his background as a physician and public health scientist, Patz spoke not only through data, but with moral urgency.
Climate, the Human Body, and Injustice
One of Patz’s strongest messages was that climate change affects health through multiple pathways: extreme heat, floods and droughts, wildfires, air pollution, vector-borne diseases, mental health stress, and food and water insecurity. These are not distant future projections, but present-day realities.
He explained how global temperature rise—now exceeding safe planetary boundaries—directly increases the risk of death from extreme heat. Events such as the 2021 heat dome in North America, which would have been statistically near-impossible without human-driven climate change, demonstrate that this crisis is no longer hypothetical.
Patz also emphasized the dimension of injustice. Countries and communities that have contributed the least to greenhouse gas emissions often bear the greatest health burdens. Climate-sensitive diseases such as dengue, malaria, and water-borne illnesses are increasing, particularly in the Global South. In this framing, climate change is not only a scientific problem, but a profound issue of global justice.

Ethics, Responsibility, and the Role of Faith Leaders
Speaking to faith leaders from diverse traditions, Patz explicitly described climate change as “the largest ethical dilemma of our time.” He reminded participants that today’s energy choices—especially continued reliance on fossil fuels—amount to a decision between prolonging suffering or protecting life.
One of the most striking moments was his reflection on a question posed to him by the Dalai Lama: “If you know pollution kills people, does that mean your country is not showing compassion?” According to Patz, this simple yet piercing question captures the moral core of the climate crisis. He urged faith leaders to see climate action as a test of fundamental values: compassion, responsibility, and care for the most vulnerable.
Hope Through Action: Health Co-Benefits
Despite outlining serious risks, Patz did not dwell in despair. Instead, he highlighted a powerful and often overlooked opportunity: the health co-benefits of climate action. Reducing fossil fuel combustion not only cuts emissions, but can save millions of lives each year through improved air quality. Promoting active transportation—walking and cycling—is not merely a climate strategy, but a public health intervention that reduces heart disease, diabetes, cancer, and depression.
The data he presented showed that the world has entered a new energy era: renewable energy is now cheaper than coal and oil. The argument that clean energy is “too expensive” no longer holds. From Patz’s perspective, we can no longer afford—morally or in terms of public health—not to transition to clean energy.
A Personal Reflection from the Global South
As a participant from Indonesia—particularly West Kalimantan—this lecture resonated deeply. Forest and peatland fires, transboundary haze, seasonal flooding, and increasing risks of environmentally driven diseases are daily realities. Patz’s framework provided scientific and ethical language for experiences long lived by local communities.
Most importantly, the lecture reaffirmed that faith leaders are not merely observers. With the trust they hold in society, religious communities can bridge science, policy, and grassroots action. PREP, through forums like this, creates a vital space for dialogue between scientific knowledge and moral responsibility.
Conclusion
Jonathan Patz’s lecture on January 12, 2026, made clear that climate change can no longer be treated as a sectoral issue. It is a crisis that affects human bodies, social structures, and our collective conscience. Here lies the ethical calling for faith leaders and religious communities: not only to understand the crisis, but to act—for health, justice, and our shared future.

Krisis Iklim sebagai Krisis Kesehatan dan Etika Global
Refleksi dari Kuliah Jonathan Patz dalam Program PREP, 12 Januari 2026
Perubahan iklim sering dibicarakan sebagai persoalan lingkungan atau energi. Namun, dalam kuliah yang disampaikan pada 12 Januari 2026 dalam rangka Preparing Religious Environmental Plans (PREP), program internasional yang diinisiasi oleh Loka Initiative di University of Wisconsin–Madison, perspektif tersebut digeser secara tegas: perubahan iklim adalah krisis kesehatan publik sekaligus dilema etika terbesar di zaman kita.
Kuliah ini menghadirkan Jonathan Patz, profesor terkemuka di University of Wisconsin–Madison, pendiri Global Health Institute, serta salah satu Lead Author Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) selama lebih dari 15 tahun—kontribusi yang turut mengantarkan IPCC meraih Nobel Perdamaian 2007. Dengan latar belakang sebagai dokter dan ilmuwan kesehatan masyarakat, Patz berbicara tidak hanya dengan data, tetapi juga dengan urgensi moral.
Iklim, Tubuh, dan Ketidakadilan
Salah satu pesan paling kuat dari Patz adalah bahwa dampak perubahan iklim bekerja melalui banyak jalur kesehatan: gelombang panas ekstrem, banjir dan kekeringan, kebakaran hutan, polusi udara, penyakit menular berbasis vektor, gangguan kesehatan mental, hingga krisis pangan dan air. Semua ini bukan proyeksi masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Ia menjelaskan bagaimana kenaikan suhu global—yang kini telah melampaui ambang aman planetary boundaries—secara langsung meningkatkan risiko kematian akibat panas ekstrem. Contoh heat dome di Amerika Utara tahun 2021, yang secara statistik hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat ulah manusia, menjadi bukti bahwa krisis ini bukan lagi soal kemungkinan, melainkan kepastian.
Lebih jauh, Patz menekankan dimensi ketidakadilan. Negara dan komunitas yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca justru menanggung beban kesehatan terbesar. Penyakit tropis seperti dengue, malaria, dan penyakit bawaan air meningkat seiring perubahan iklim, terutama di wilayah Global South. Dalam kerangka ini, perubahan iklim bukan hanya isu ilmiah, tetapi persoalan keadilan global.
Etika, Tanggung Jawab, dan Peran Pemimpin Iman
Berbicara di hadapan para pemimpin agama dari berbagai tradisi, Patz secara eksplisit menyebut perubahan iklim sebagai “the largest ethical dilemma of our time.” Ia mengingatkan bahwa keputusan energi hari ini—terutama ketergantungan pada bahan bakar fosil—berarti memilih antara memperpanjang penderitaan atau melindungi kehidupan.
Salah satu kisah yang paling menggugah adalah refleksinya atas pertanyaan Dalai Lama kepadanya: “Jika Anda tahu bahwa polusi membunuh, apakah itu berarti negara Anda tidak menunjukkan welas asih?” Pertanyaan ini, menurut Patz, sederhana namun sangat tajam. Ia mengajak para pemimpin iman untuk melihat krisis iklim sebagai ujian nilai-nilai moral: kasih sayang, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap yang paling rentan.
Harapan dari Aksi: Co-benefits Kesehatan
Di tengah paparan risiko, Patz tidak berhenti pada narasi krisis. Ia justru menekankan peluang besar yang sering luput dibicarakan: co-benefits kesehatan dari aksi iklim. Mengurangi pembakaran bahan bakar fosil tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga dapat menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun melalui perbaikan kualitas udara. Transisi menuju transportasi aktif—berjalan kaki dan bersepeda—bukan hanya strategi iklim, tetapi juga intervensi kesehatan yang mampu menurunkan penyakit jantung, diabetes, kanker, hingga depresi.
Data yang dipaparkannya menunjukkan bahwa dunia telah memasuki era baru energi: energi terbarukan kini lebih murah dibandingkan batu bara dan minyak. Argumen bahwa energi bersih “terlalu mahal” tidak lagi relevan. Justru, menurut Patz, kita tidak mampu secara moral dan kesehatan publik untuk tidak beralih ke energi bersih.
Refleksi Personal dari Perspektif Global South
Bagi saya sebagai peserta dari Indonesia—khususnya Kalimantan Barat—materi ini terasa sangat dekat. Kebakaran hutan dan lahan gambut, kabut asap lintas batas, banjir musiman, serta meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan adalah contoh nyata bagaimana krisis iklim menjelma menjadi krisis kesehatan dan sosial di tingkat lokal. Apa yang disampaikan Patz memberi bahasa ilmiah dan etis untuk pengalaman yang selama ini dialami masyarakat.
Yang paling penting, kuliah ini menegaskan bahwa pemimpin agama bukan sekadar penonton. Dengan kepercayaan publik yang dimiliki, komunitas iman dapat menjadi jembatan antara sains, kebijakan, dan tindakan akar rumput. PREP, melalui forum seperti ini, membuka ruang bagi perjumpaan antara pengetahuan ilmiah dan tanggung jawab moral.
Penutup
Kuliah Jonathan Patz pada 12 Januari 2026 memperlihatkan bahwa perubahan iklim tidak bisa lagi diperlakukan sebagai isu sektoral. Ia adalah krisis yang menyentuh tubuh manusia, struktur sosial, dan nurani kolektif kita. Di sinilah letak panggilan etis bagi pemimpin agama dan masyarakat beriman: tidak hanya memahami, tetapi juga bertindak—demi kesehatan, keadilan, dan masa depan bersama.