MADISON, U.S. (23/02/2026) — The climate crisis is no longer understood merely as a technical environmental issue, but increasingly as a moral, spiritual, and social justice concern. This perspective was articulated by Laura Lane, Wisconsin Director of Outreach at the faith-based environmental organization Faith in Place, during the international forum Preparing Religious Environmental Plans (PREP), initiated by The Loka Initiative in collaboration with the University of Wisconsin–Madison and attended by interfaith leaders and activists from around the world.
Laura Lane is widely recognized as an environmental justice advocate with a background in environmental law and extensive experience in advancing renewable energy transitions in the United States. She has been actively involved in campaigns to retire coal-fired power plants, strengthen environmental regulations, and empower faith communities to take part directly in climate solutions.
In her PREP presentation, Laura shared that her deep connection to nature began in childhood while growing up in Colorado, a region surrounded by mountains and expansive natural landscapes. Witnessing environmental destruction firsthand—ranging from plastic pollution in oceans to widespread ecosystem degradation—led to what she describes as eco-grief, a form of ecological sorrow arising from the realization that the Earth is deeply wounded.
“For me, the climate crisis is a spiritual crisis. It raises fundamental questions about how human beings treat creation and one another,” Laura said.
Founded more than 25 years ago, Faith in Place is an interfaith environmental justice organization that works with Christian, Muslim, Jewish, Hindu, and Buddhist communities, as well as with individuals who may not be affiliated with religious institutions but hold strong moral commitments to justice. The organization operates across Illinois, Indiana, and Wisconsin, focusing on three core pillars: clean and sustainable energy, healthy communities, and people-powered futures.
One of the flagship initiatives highlighted by Laura is the Empowering Faith Communities Pilot Program. The program supports houses of worship and community organizations by providing free energy assessments, tailored efficiency upgrade recommendations, and financial incentives to replace or improve HVAC systems, lighting, electrical equipment, and building insulation.
“When houses of worship reduce their energy costs, they gain more resources to serve their communities—especially those who are most vulnerable,” she explained.
Laura emphasized that the success of such programs depends not only on technology, but also on strong social processes. The first and most essential step, she stressed, is listening.
“Serving others must begin with understanding their needs, not assuming them,” Laura said. She encourages dialogue with residents, families, youth, local leaders, community organizations, and interfaith groups before designing any program.

Responding to Laura’s presentation, Dr. Samsul Hidayat, a PREP participant from Indonesia, posed a reflective question:
“Could you share a concrete example where beginning with listening significantly changed the direction of a faith-based program?”
Laura recounted that in several cases, Faith in Place initially assumed communities wanted solar energy projects. However, after conducting listening sessions, they discovered that the more urgent need was repairing heating and cooling systems so that worship spaces could be used safely and comfortably throughout the year. “If we had not listened, we would have pushed the wrong solution,” she said.
She added that listening builds trust, and trust is the foundation of long-term collaboration.
Beyond listening, Laura highlighted the importance of planning with SMART goals—Specific, Measurable, Attainable, Relevant, and Time-bound. This approach, she noted, helps faith communities avoid overly abstract initiatives and ensures that each program has clear direction, measurable outcomes, and realistic timelines.
According to Laura, faith communities occupy a unique position as trusted social anchors within society. When mobilized collectively, they can become powerful drivers of change toward just and sustainable communities.
“Big change always starts with small groups of people who decide to take action together,” Laura concluded.

Aktivis Lingkungan AS Dorong Peran Komunitas Iman dalam Aksi Iklim: Laura Lane Paparkan Model Faith in Place
MADISON US (23/02/2026) — Isu krisis iklim tidak lagi dipahami semata sebagai persoalan teknis lingkungan, melainkan juga sebagai persoalan moral, spiritual, dan keadilan sosial. Perspektif inilah yang disampaikan Laura Lane, Wisconsin Director of Outreach dari organisasi lingkungan berbasis iman Faith in Place, dalam forum internasional Preparing Religious Environmental Plans (PREP) yang diinisiasi oleh The Loka Initiative bekerja sama dengan University of Wisconsin–Madison, dan diikuti para pemimpin serta aktivis lintas iman dari berbagai negara.
Laura Lane dikenal sebagai aktivis keadilan lingkungan yang memiliki latar belakang hukum lingkungan dan pengalaman panjang dalam advokasi transisi energi terbarukan di Amerika Serikat. Ia terlibat aktif dalam berbagai kampanye penutupan pembangkit listrik batu bara, penguatan regulasi lingkungan, serta pemberdayaan komunitas berbasis iman agar terlibat langsung dalam solusi iklim.
Dalam paparannya di forum PREP, Laura menceritakan bahwa kecintaannya pada alam tumbuh sejak kecil ketika ia dibesarkan di Colorado, wilayah yang dikelilingi pegunungan dan lanskap alami. Pengalaman menyaksikan langsung kerusakan lingkungan, termasuk polusi plastik di laut dan degradasi ekosistem, menumbuhkan apa yang ia sebut sebagai eco-grief—kesedihan ekologis akibat menyadari bahwa bumi sedang terluka.
“Bagi saya, krisis iklim adalah krisis spiritual. Ia menyentuh pertanyaan mendasar tentang bagaimana manusia memperlakukan ciptaan dan sesama,” ujar Laura.
Faith in Place sendiri merupakan organisasi keadilan lingkungan lintas iman yang telah berdiri lebih dari 25 tahun, bekerja bersama komunitas Kristen, Muslim, Yahudi, Hindu, Buddha, serta mereka yang tidak terikat pada institusi agama tetapi memiliki komitmen moral terhadap keadilan. Organisasi ini beroperasi di Illinois, Indiana, dan Wisconsin, dengan fokus pada tiga pilar utama: energi berkelanjutan, komunitas sehat, dan masa depan yang digerakkan oleh masyarakat.
Salah satu program unggulan yang dipaparkan Laura adalah Empowering Faith Communities Pilot Program, yakni program yang membantu rumah ibadah dan organisasi komunitas melakukan audit energi gratis, menerima rekomendasi peningkatan efisiensi, serta memperoleh insentif finansial untuk mengganti sistem HVAC, pencahayaan, peralatan listrik, hingga insulasi bangunan.
“Ketika rumah ibadah menurunkan biaya energi, mereka memiliki lebih banyak sumber daya untuk melayani masyarakat, terutama kelompok rentan,” jelasnya.
Laura menekankan bahwa keberhasilan program bukan hanya terletak pada teknologi, tetapi pada proses sosialnya. Langkah pertama yang selalu ditekankan adalah mendengarkan. “
Melayani orang lain harus dimulai dengan memahami kebutuhan mereka, bukan mengasumsikannya,” kata Laura. Ia mendorong dialog dengan warga, keluarga, pemuda, pemimpin lokal, organisasi masyarakat, dan kelompok lintas iman sebelum merancang program.
Menanggapi pemaparan tersebut, Dr. Samsul Hidayat, salah satu peserta PREP dari Indonesia, mengajukan pertanyaan reflektif: “Bisakah Anda membagikan contoh konkret ketika praktik mendengarkan terlebih dahulu benar-benar mengubah arah sebuah program berbasis iman?”
Laura menjawab bahwa dalam beberapa kasus, Faith in Place awalnya mengira komunitas membutuhkan proyek energi surya, namun setelah sesi mendengarkan, ternyata kebutuhan mendesak justru adalah perbaikan sistem pemanas dan pendingin agar ruang ibadah layak digunakan sepanjang tahun. “Jika kami tidak mendengarkan, kami akan memaksakan solusi yang keliru,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa mendengarkan membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi dari kolaborasi jangka panjang.
Selain mendengarkan, Laura menyoroti pentingnya perencanaan berbasis tujuan SMART, yakni tujuan yang Specific (spesifik), Measurable (terukur), Attainable (dapat dicapai), Relevant (relevan dengan kebutuhan komunitas), dan Time-bound (memiliki batas waktu yang jelas).
Menurutnya, pendekatan ini membantu komunitas iman menghindari program yang terlalu abstrak, sekaligus memastikan bahwa setiap inisiatif memiliki arah, ukuran keberhasilan, dan tenggat yang realistis. Menurutnya, komunitas iman memiliki posisi unik sebagai jangkar sosial yang dipercaya masyarakat. Jika digerakkan secara kolektif, mereka dapat menjadi motor perubahan menuju komunitas yang adil dan berkelanjutan.
“Perubahan besar selalu dimulai dari kelompok kecil orang-orang yang mengambil tindakan bersama,” pungkas Laura.