Oleh : Prof. Dr. Samsul Hidayat, MA
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak
Yogyakarta (14/06) Setiap kali bertemu mahasiswa atau calon alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), saya sering mengajukan pertanyaan sederhana: setelah lulus nanti, ingin menjadi apa?
Jawaban yang paling sering muncul masih relatif sama: ingin bekerja di bank syariah, menjadi analis pembiayaan, atau bahkan menjadi teller.
Tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut. Dunia perbankan syariah tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi Islam. Namun, jika cita-cita kita berhenti di sana, saya khawatir kita sedang membatasi potensi besar yang dimiliki lulusan FEBI.
Ekonomi Islam sejatinya lahir bukan untuk menciptakan tenaga kerja semata, melainkan untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan ekonomi masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi saat ini, kita masih menyaksikan banyak pelaku UMKM kesulitan memperoleh akses permodalan. Banyak anak muda memiliki ide bisnis yang kreatif, tetapi tidak memiliki pendampingan dan akses pembiayaan yang memadai. Di sisi lain, masih ada kelompok masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan formal atau mengalami eksklusi ekonomi.
Pertanyaannya, siapa yang akan menjawab persoalan-persoalan tersebut?
Saya percaya, salah satu jawabannya adalah lulusan FEBI.
Kita membutuhkan lebih banyak alumni yang berani menjadi penggerak ekonomi umat. Alumni yang tidak hanya menunggu lowongan pekerjaan, tetapi mampu menciptakan peluang baru. Alumni yang tidak hanya memahami akad murabahah atau mudharabah di ruang kelas, tetapi mampu menerjemahkan konsep-konsep tersebut menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Bayangkan jika lulusan FEBI hadir di desa-desa sebagai pendamping UMKM berbasis syariah. Bayangkan jika mereka membangun koperasi modern berbasis digital, mendirikan startup halal, mengembangkan industri kreatif, mengelola zakat dan wakaf secara produktif, atau menciptakan platform pembiayaan alternatif yang lebih inklusif.
Dampaknya tentu akan jauh lebih besar daripada sekadar mengisi kursi-kursi kerja yang sudah tersedia.
Karena itu, saya meyakini bahwa paradigma pendidikan ekonomi Islam juga harus berubah.
Sudah saatnya kita berhenti mendesain kurikulum yang hanya berorientasi pada kebutuhan pasar kerja konvensional. Kampus perlu membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa menjadi inovator, pemecah masalah, dan pencipta nilai.
Mahasiswa FEBI perlu dibekali kemampuan yang lebih adaptif: literasi digital, kewirausahaan, analisis data, pemanfaatan kecerdasan buatan, pengelolaan bisnis berbasis teknologi, hingga kemampuan berjejaring di tingkat global.
Dunia berubah sangat cepat. Batas-batas geografis semakin kabur. Seorang lulusan dari Pontianak hari ini bisa bekerja sama dengan mitra bisnis dari Kuala Lumpur, Istanbul, Doha, atau bahkan London tanpa harus meninggalkan daerahnya.
Karena itu, kita tidak boleh lagi mendesain lulusan hanya untuk menjawab kebutuhan level lokal atau nasional.
Kita harus menyiapkan lulusan yang mampu bersaing dan berkontribusi pada tingkat regional dan global.
FEBI harus menjadi ruang lahirnya para pengusaha sosial, konsultan ekonomi syariah, penggerak industri halal, pengelola keuangan sosial Islam, peneliti, inovator, dan pemimpin masa depan.
Tentu, perubahan ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh kampus. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, lembaga keuangan syariah, komunitas bisnis, dan para alumni.
Ekonomi Islam membutuhkan lebih banyak praktik baik dan lebih sedikit romantisme konsep.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan FEBI bukan hanya berapa persen lulusannya terserap di dunia kerja, tetapi seberapa besar dampak yang mereka ciptakan bagi masyarakat.
Berapa banyak UMKM yang berhasil naik kelas karena pendampingan mereka? Berapa banyak lapangan kerja baru yang berhasil mereka buka? Berapa banyak masyarakat yang akhirnya memiliki akses terhadap layanan keuangan yang adil dan inklusif?
Mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan lama yang selalu diajukan kepada mahasiswa.
Bukan lagi, “Setelah lulus ingin bekerja di mana?”
Tetapi, “Persoalan ekonomi apa yang ingin Anda selesaikan?”
Sebab masa depan ekonomi Islam tidak ditentukan oleh banyaknya lulusan yang bekerja di bank syariah, melainkan oleh keberanian mereka menghadirkan solusi yang nyata bagi umat, bangsa, dan dunia.