PONTIANAK (17/02/2026) — Behind the recurring haze, seasonal floods, and expanding peatland degradation in West Kalimantan, there are people working quietly. They rarely stand under bright spotlights, yet they remain present when sorrow descends upon communities. They are the volunteers of the Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) of West Kalimantan.

For Baruni Hendri, Chair of MDMC West Kalimantan, MDMC is not merely a disaster-response organization. It is a faith-driven humanitarian community that dedicates itself to serving others as an expression of worship. “MDMC is dakwah bil hal—preaching through action. We serve humanity as part of our devotion to God,” he explained.

Membership in MDMC is not restricted by age, educational background, or social status. Anyone who is willing to dedicate themselves to humanitarian work can become part of the movement. From young people to elders, from farmers to academics, all are united by a single spirit: helping others for the sake of God.

West Kalimantan faces a distinct pattern of disasters. Baruni described the region as being dominated by hydrometeorological hazards, especially forest and land fires (karhutla) and flooding. Yet he stressed that these events can no longer be understood simply as natural phenomena.

“What we are dealing with today are ecological disasters,” he said. Widespread deforestation, degraded peatlands, and damaged hydrological systems have severely weakened the environment’s capacity to sustain life. When the dry season arrives, land becomes highly flammable. When heavy rains fall, water can no longer be absorbed, and floods inevitably follow.

In this context, MDMC West Kalimantan strives to work on two fronts: emergency response and mitigation. The organization has initiated various programs, including strengthening its institutional capacity, developing the One Muhammadiyah One Response volunteer framework, establishing disaster-resilient houses of worship, supporting disaster-resilient villages, and promoting disaster-safe educational institutions.

However, the journey is far from easy. Limited funding and logistical resources remain major obstacles. Baruni acknowledged that volunteers are abundant and highly motivated, yet their capacity to act is often constrained by a lack of equipment and operational support. Moreover, backing from Muhammadiyah structures at the district level has not been evenly distributed.

“We often find ourselves in a situation of scarcity. But whatever we are able to do, that is what we do,” he said.

Despite these challenges, MDMC continues to search for pathways of hope. The organization builds partnerships with local government, civil society groups, and various humanitarian networks. According to Baruni, government institutions recognize that they cannot handle disasters alone. The presence of volunteers has proven indispensable, both in emergency response and post-disaster recovery.

Beyond technical operations, Baruni emphasized that disaster work is inseparable from Muhammadiyah’s long-standing mission of dakwah berkemajuan (progressive Islamic mission). Since its early history, Muhammadiyah has placed the suffering of humanity at the center of its concern. Health services, education, and now disaster management represent concrete expressions of this humanitarian theology.

This perspective shapes a distinctive work ethic. Helping others is not merely a social obligation; it is an act of faith. Working amid mud, smoke, and hardship becomes part of one’s worship.

“Humanitarian work is work for God,” Baruni affirmed.

Looking ahead, MDMC West Kalimantan identifies pre-disaster mitigation as its most urgent priority. Preparing resilient communities before disasters strike is far more effective than merely responding after catastrophe occurs. Strengthening community capacity, restoring peatland ecosystems, and ensuring basic logistical readiness are among the organization’s key focuses.

Baruni’s reflections remind us that disasters are not solely about nature’s fury, but also about the relationship between humans and their environment. When forests are cleared without restraint and peatlands are drained without ecological consideration, humanity is, in effect, preparing its own disasters.

Amid all limitations, MDMC West Kalimantan chooses to keep moving forward. Not with grand rhetoric, but with small, consistent steps. They nurture hope among ruins and light candles in the darkness.

The story of MDMC West Kalimantan is a testament that resilience is not born of abundance, but of sincerity. That living faith is not only spoken from pulpits, but practiced in the field.

On these quiet frontlines of humanity, MDMC West Kalimantan continues to keep the flame alive—affirming that in the midst of ecological crisis, there are still people who choose to become a mercy to others.

MDMC Kalbar Merawat Harapan di Tengah Bencana Ekologis

PONTIANAK (17/02/2026)— Di balik kabut asap yang berulang, banjir yang silih berganti, dan kerusakan gambut yang kian meluas, ada barisan manusia yang bekerja dalam diam. Mereka tidak selalu hadir di panggung besar, tetapi setia berada di garis depan ketika duka menyelimuti masyarakat. Mereka adalah relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kalimantan Barat.

Ketua MDMC PWM Kalbar, Baruni Hendri, menggambarkan MDMC bukan sekadar sebagai organisasi kebencanaan, tetapi sebagai komunitas iman yang mewakafkan diri untuk kemanusiaan. “MDMC adalah dakwah bil hal. Kami berkhidmat kepada sesama sebagai bentuk ibadah,” ungkapnya dalam sebuah pemaparan reflektif.

Keanggotaan MDMC tidak dibatasi usia, latar pendidikan, maupun status sosial. Siapa pun yang memiliki kerelaan untuk bergerak bagi kemanusiaan dapat bergabung. Dari anak muda hingga lansia, dari petani hingga akademisi, semua menyatu dalam satu spirit: menolong karena Tuhan.

Kalimantan Barat sendiri menghadapi karakter bencana yang khas. Baruni menjelaskan bahwa wilayah ini didominasi oleh bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir. Namun, ia menegaskan bahwa bencana tersebut tidak bisa lagi dipahami sebagai sekadar fenomena alam.

“Yang kita hadapi hari ini adalah bencana ekologis,” katanya. Kerusakan hutan, degradasi gambut, dan rusaknya sistem hidrologi telah melemahkan daya dukung lingkungan. Ketika kemarau datang, lahan mudah terbakar. Ketika hujan turun, air tak lagi tertampung dan banjir pun terjadi.

Dalam situasi seperti ini, MDMC Kalbar berupaya bergerak di dua medan sekaligus: respons dan mitigasi. Berbagai inisiatif telah dilakukan, mulai dari penguatan kelembagaan, pembentukan skema relawan One Muhammadiyah One Response, pengembangan rumah ibadah tangguh bencana, desa tangguh bencana, hingga satuan pendidikan aman bencana.

Namun, jalan yang ditempuh tidak selalu mulus. Keterbatasan pendanaan dan logistik menjadi tantangan utama. Baruni mengakui bahwa relawan sebenarnya banyak dan memiliki semangat tinggi, tetapi sering terkendala sarana dan operasional. Dukungan dari struktur Muhammadiyah di tingkat daerah pun belum merata.

“Kami sering berada pada posisi serba terbatas. Tapi apa yang bisa kami lakukan, itulah yang kami lakukan,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, MDMC terus mencari celah harapan. Mereka membangun jejaring dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, serta berbagai mitra. Pemerintah, menurut Baruni, menyadari bahwa mereka tidak mampu bekerja sendiri. Kehadiran relawan sangat membantu, baik dalam tanggap darurat maupun pemulihan pasca-bencana.

Lebih dari sekadar kerja teknis, Baruni menekankan bahwa kebencanaan bagi Muhammadiyah adalah bagian dari misi dakwah berkemajuan. Sejak awal berdiri, Muhammadiyah telah menempatkan urusan kesengsaraan umat sebagai fokus utama. Layanan kesehatan, pendidikan, dan kini kebencanaan merupakan wajah konkret dari teologi kemanusiaan tersebut.

Cara pandang ini melahirkan etos kerja yang khas. Menolong bukan semata kewajiban sosial, tetapi ekspresi keimanan. Bekerja di tengah lumpur, asap, dan keterbatasan adalah bagian dari ibadah.

“Kerja-kerja kemanusiaan itu kerja untuk Tuhan,” tegas Baruni.

Ke depan, MDMC Kalbar memandang mitigasi pra-bencana sebagai agenda paling mendesak. Mempersiapkan komunitas yang tangguh sebelum bencana terjadi jauh lebih penting daripada sekadar merespons ketika bencana sudah datang. Penguatan kapasitas masyarakat, restorasi ekosistem gambut, serta penyediaan logistik dasar menjadi prioritas utama.

Refleksi Baruni ini menggugah kesadaran bahwa bencana bukan hanya soal alam yang murka, tetapi juga tentang relasi manusia dengan lingkungannya. Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan gambut dikeringkan tanpa pertimbangan ekologis, sesungguhnya manusia sedang menyiapkan bencananya sendiri.

Di tengah keterbatasan itu, MDMC Kalbar memilih tetap berjalan. Tidak dengan retorika besar, tetapi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Mereka merawat harapan di tengah puing, menyalakan lilin di tengah gelap.

Kisah MDMC Kalbar adalah pengingat bahwa ketangguhan bukan lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketulusan. Bahwa iman yang hidup bukan hanya yang terucap di mimbar, tetapi yang bekerja di lapangan.

Di garis sunyi kemanusiaan itulah, MDMC Kalbar terus menjaga nyala: bahwa di tengah bencana ekologis, masih ada manusia yang memilih menjadi rahmat bagi sesamanya

Categories: Artikel