Madison, Amerika Serikat (9/2/2026) Upaya pelestarian lingkungan hidup tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan teknokratis semata. Pesan ini mengemuka kuat dalam sesi pembelajaran program Preparing Religious Environmental Plans (PREP), ketika Karibu Bwana Barasa—konsultan program Beliefs and Values pada World Wide Fund for Nature (WWF) Inggris—memaparkan praktik restorasi berbasis iman yang telah ia jalankan lebih dari satu dekade di Afrika Timur.

Dalam paparannya, Barasa menegaskan bahwa komunitas agama memiliki potensi luar biasa sebagai aktor kunci dalam pemulihan ekosistem. Tidak hanya karena jumlah pengikutnya yang besar, tetapi juga karena nilai-nilai teologis yang secara inheren mengajarkan tanggung jawab moral manusia terhadap alam.

“Restorasi bukan semata menanam pohon. Ia adalah proses spiritual, sosial, dan ekologis yang terintegrasi. Ketika iman menjadi fondasi, perubahan perilaku masyarakat berlangsung lebih dalam dan berkelanjutan,” ujar Tom Barasa.

Dari Guru Sekolah ke Penggerak Restorasi Berbasis Iman

Barasa mengisahkan keterlibatannya dalam isu lingkungan bermula pada 2012, saat masih berprofesi sebagai guru sekolah menengah di Kenya. Bersama para siswa dan komunitas gereja, ia mengelola kebun pertanian berkelanjutan serta melakukan perlindungan hutan di tingkat lokal. Pengalaman ini membawanya terlibat dalam berbagai lokakarya lintas iman yang mempertemukan aktor agama dengan organisasi konservasi.

Sejak saat itu, ia konsisten mengembangkan pendekatan “faith and restoration”—yakni model kerja yang menggabungkan ajaran agama, penguatan kapasitas teknis, dan kemitraan multipihak untuk memulihkan lahan, air, dan keanekaragaman hayati.

Jaringan Lintas Iman dan Tujuh Langkah Restorasi

Salah satu kontribusi utama Barasa adalah pengembangan proses bertahap dalam membangun jaringan restorasi berbasis iman. Proses ini dimulai dari pemetaan aktor-aktor keagamaan, pertemuan awal untuk membangun kepercayaan, hingga pembentukan jaringan lintas iman yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, komunitas hutan, dan instansi pemerintah.

Ia juga memperkenalkan tujuh langkah kunci restorasi, antara lain:

  1. Menyepakati tujuan restorasi (mengapa dan untuk apa).

  2. Membangun kemitraan.

  3. Perencanaan kegiatan.

  4. Implementasi.

  5. Monitoring dan evaluasi.

  6. Pembelajaran bersama.

  7. Berbagi cerita dan perayaan.

Menurut Barasa, tahapan “berbagi cerita” menjadi ciri khas penting. “Kami tidak menutup proyek. Kami merayakan, mendokumentasikan, dan membagikan kisahnya agar menginspirasi komunitas lain,” jelasnya.

Faith Plans: Peta Jalan Keagamaan untuk Merawat Bumi

Barasa juga menyoroti pentingnya faith plans atau rencana aksi keagamaan untuk lingkungan. Hingga kini, sedikitnya 15 komunitas iman di Afrika Timur telah menyusun rencana lima hingga sepuluh tahun yang memuat komitmen pada tujuh area utama: aset dan lahan, investasi keuangan, pendidikan, teologi dan liturgi, gaya hidup berkelanjutan, media dan advokasi, serta kemitraan.

Contohnya, rumah ibadah didorong menjadi bangunan hijau, lahan komunitas dipulihkan, kurikulum pendidikan memasukkan tema ekologi, dan khotbah atau ceramah mengintegrasikan pesan perawatan ciptaan.

“Faith plan membantu komunitas melihat bahwa merawat bumi bukan proyek sampingan, tetapi bagian dari identitas keagamaan mereka,” tegas Barasa.

Dampak Nyata di Lapangan

Pendekatan ini telah menunjukkan hasil konkret. Di Afrika Timur, komunitas iman berhasil memulihkan ratusan hektare lahan, menanam puluhan ribu pohon dengan tingkat kelangsungan hidup tinggi, serta memperluas komitmen restorasi pada ribuan hektare tambahan. Lebih dari itu, perubahan sikap masyarakat terhadap hutan, tanah, dan air menjadi indikator keberhasilan yang paling penting.

Barasa menekankan bahwa sebagian besar inisiatif tersebut dimulai dengan sumber daya terbatas. Motivasi utama bukan insentif finansial, melainkan kesadaran moral dan spiritual. Dana hanya berfungsi sebagai pendukung teknis, misalnya untuk penyediaan bibit atau pelatihan.

Relevansi Global

Pesan Barasa memiliki resonansi kuat bagi negara-negara dengan tingkat religiositas tinggi, termasuk Indonesia. Ia menilai bahwa ketika komunitas iman bergerak bersama, mereka dapat menjadi kekuatan transformasional dalam menghadapi krisis iklim, deforestasi, dan degradasi ekosistem.

“Pemimpin dan komunitas agama berada pada posisi strategis untuk menentukan apakah alam akan dieksploitasi atau dilindungi. Dengan pendekatan berbasis iman, pilihan itu dapat diarahkan pada perlindungan,” pungkasnya.

Paparan Karibu Bwana Barasa mempertegas bahwa masa depan konservasi membutuhkan sinergi antara sains dan spiritualitas—sebuah jalan tengah yang memanusiakan manusia sekaligus memuliakan alam.

Karibu Bwana Barasa Urges Faith-Based Restoration as a New Path for Global Conservation

Madison, United State (9/2/2026) Environmental protection can no longer rely solely on technocratic approaches. This message resonated strongly during a session of the Preparing Religious Environmental Plans (PREP) program, where Karibu Bwana Barasa—consultant to the Beliefs and Values program at World Wide Fund for Nature (WWF) UK—presented more than a decade of experience in advancing faith-based ecosystem restoration in East Africa.

In his presentation, Barasa emphasized that religious communities possess extraordinary potential as key actors in environmental recovery. This potential lies not only in their vast constituencies, but also in the theological values that embed moral responsibility toward nature.

“Restoration is not simply about planting trees. It is a spiritual, social, and ecological process. When faith becomes the foundation, behavioral change in communities is deeper and more enduring,” said Tom Barasa.

From Classroom to Grassroots Environmental Leadership

Barasa’s engagement in environmental issues began in 2012, when he was still a high-school teacher in Kenya. Working with students and church communities, he helped establish sustainable agriculture gardens and forest protection initiatives at the local level. These experiences later brought him into regional interfaith workshops that connected religious actors with conservation organizations.

Since then, he has consistently developed what he calls a “faith and restoration” approach—integrating religious teachings, technical capacity building, and multi-stakeholder partnerships to restore land, water sources, and biodiversity.

Interfaith Networks and a Step-by-Step Restoration Model

One of Barasa’s key contributions is the development of a structured process for building faith-based restoration networks. The process begins with mapping religious actors, followed by trust-building meetings, and culminates in the formation of interfaith networks that include NGOs, universities, community forest groups, and government agencies.

He also introduced a seven-step framework for restoration initiatives:

  1. Agreeing on the purpose of restoration.

  2. Building partnerships.

  3. Planning activities.

  4. Implementing actions.

  5. Monitoring and evaluation.

  6. Collective learning.

  7. Story-sharing and celebration.

According to Barasa, the final step—sharing stories—is essential. “We do not ‘close’ projects. We celebrate them, document them, and share their stories so they can inspire other communities,” he explained.

Faith Plans: Religious Roadmaps for Caring for the Earth

Barasa highlighted the importance of faith plans—long-term environmental action strategies developed by religious communities themselves. At least 15 faith communities in East Africa have now adopted five- to ten-year faith plans covering seven priority areas: assets and land, financial investments, education, theology and liturgy, sustainable lifestyles, media and advocacy, and partnerships.

Through these plans, houses of worship are encouraged to become green buildings, community lands are restored, educational curricula incorporate environmental ethics, and sermons or teachings integrate messages of ecological responsibility.

“Faith plans help communities realize that caring for the Earth is not an optional activity, but a core expression of their religious identity,” Barasa said.

Tangible Impact on the Ground

The approach has generated measurable results. In East Africa, faith communities have restored hundreds of hectares of degraded land, planted tens of thousands of trees with high survival rates, and pledged thousands of additional hectares for future restoration. More importantly, shifts in community attitudes toward forests, soil, and water have become a key indicator of success.

Barasa stressed that most initiatives began with minimal resources. The primary driver is moral and spiritual commitment rather than financial incentives. Funding mainly supports technical needs, such as seedlings and training.

Global Relevance

Barasa’s message carries strong relevance for countries with high levels of religiosity, including Indonesia. He argued that when faith communities act collectively, they can become transformative forces in confronting climate change, deforestation, and ecosystem degradation.

“Faith leaders and communities occupy a strategic position. They can shape whether nature is exploited or protected. With faith-based approaches, that choice can be directed toward protection,” he concluded.

Barasa’s presentation underscores a growing global consensus: the future of conservation depends on meaningful integration between science and spirituality—an approach that honors both humanity and the living Earth.

Categories: Artikel