Madison, United State (13/02/2026) — Faith-based environmental conservation initiatives will be far more effective when they are guided by bold visions but implemented through small, realistic, measurable, and time-bound actions. This message was emphasized by Huda Alkaff during a session of the Preparing Religious Environmental Plans (PREP) program, as she discussed strategies for designing environmental projects grounded in the everyday realities of local communities.
According to Huda, many well-intentioned initiatives struggle not because of a lack of commitment, but because their scope is too expansive and difficult to operationalize. She stressed the importance of balancing ambition with feasibility. An ideal project, she explained, should stretch participants to think beyond the status quo while remaining achievable within a clearly defined period.
To illustrate this approach, Huda shared lessons from the Green Ramadan campaign. The long-term vision of the initiative is to encourage mosques, schools, and Muslim communities to adopt environmentally responsible practices. However, its initial mission focuses on working with only three to five mosques so that progress can be closely monitored and evaluated. “You can have a big vision,” she noted, “but your mission must be practical, doable, and measurable.”
Responding to this framework, Dr. Samsul Hidayat presented a pilot initiative he is currently considering, centered on takjil vendors—sellers of snacks or drinks commonly consumed to break the fast. The pilot would engage three to five vendors and support them in gradually shifting from single-use plastic packaging to environmentally friendly alternatives during the first two weeks of Ramadan.
Samsul explained that the program would include clear indicators, such as daily reductions in plastic use and observable changes in packaging materials. He asked whether this design reflects the balance between an ambitious vision and realistic implementation, and what elements could be refined to make the program easier to scale in other contexts.
In response, Huda highlighted another major source of plastic waste during Ramadan: bottled drinking water at iftar gatherings. She recommended installing water refill stations and encouraging congregants to bring reusable bottles that can be labeled and used throughout the month. This approach, she said, can significantly reduce the consumption of single-use plastic bottles.
Huda added that success can be tracked through digital counters on refill stations, which record how often they are used and estimate how many plastic bottles have been avoided. Any remaining plastic bottles should be directed to clearly marked recycling bins rather than landfills.
Beyond plastics, Huda also emphasized the importance of composting food waste. Leftover food can be collected in special containers and processed into compost that enriches soil and supports healthier food production. This practice reduces waste while reinforcing the circular relationship between kitchens, soil, gardens, and community well-being.
Samsul welcomed these ideas, noting that combining faith-based values with concrete, practical actions makes environmental messages more accessible to the public. He emphasized that religious teachings about avoiding excess, caring for the Earth, and upholding social responsibility provide a strong ethical foundation for everyday behavioral change.
Huda further underscored the importance of stakeholder mapping in every project. Identifying who supports an initiative, who may hinder it, and what kinds of interventions are needed helps teams build effective collaboration and anticipate potential challenges.
Huda Alkaff is an ecologist and environmental educator, and the founder and director of Wisconsin Green Muslims and Michigan Green Muslims, grassroots environmental justice organizations established in 2005 that connect faith, sustainability, environmental justice, and healing through education and service. She holds degrees in Conservation Ecology, Sustainable Development, and Science/Environmental Education from the University of Georgia.
Her work has been recognized internationally and nationally, including the 2015 White House Champions of Change for Faith Climate Justice Leaders award from President Barack Obama, the 2016 Sierra Club Great Waters Group Environmental Hero of the Year, the 2018 Wisconsin Association for Environmental Education Eco-Justice Award, and the 2021 Rachel’s Network Catalyst Award. More recently, she was named a finalist for the 2022 American Climate Leadership Award, received the 2022 Midwest Environmental Advocates Environmental Justice Award, the 2023 Cecil Corbin-Mark Vanguard Fellowship from the Green Leadership Trust, and the 2025 Sustain Dane Live Forward Award.
For more than two decades, Huda has worked at the intersection of faith and environmental justice, initiating Muslim and interfaith programs on energy democracy and water equity. She currently serves as the Coordinator of Faith Communities for the Equitable Solar Initiative, connecting more than 10,000 people across 19 faith traditions and spiritual backgrounds, and recently co-chaired the U.S. Climate Action Network’s 100% Equitable Renewable Energy Action Team.
She concluded by reminding participants that faith-based environmental action does not need to begin at a large scale. What matters most is the willingness to start small, remain consistent, and learn from experience. From such modest beginnings, meaningful and sustainable movements can grow.

Huda Alkaff: Proyek Lingkungan Berbasis Iman Harus Ambisius, Realistis, dan Terukur
Madison, Amerika Serikat (13/02/2026) — Inisiatif konservasi lingkungan berbasis iman akan jauh lebih efektif apabila dipandu oleh visi besar, namun dijalankan melalui langkah-langkah kecil yang realistis, terukur, dan berbatas waktu. Pesan ini ditekankan oleh Huda Alkaff dalam sesi program Preparing Religious Environmental Plans (PREP), saat ia membahas strategi merancang proyek lingkungan yang berakar pada realitas keseharian komunitas.
Menurut Huda, banyak inisiatif yang memiliki niat baik namun mengalami kesulitan bukan karena kurangnya komitmen, melainkan karena cakupannya terlalu luas dan sulit dioperasionalkan. Ia menegaskan pentingnya menyeimbangkan antara ambisi dan keterlaksanaan. Sebuah proyek ideal, jelasnya, harus mendorong perubahan sekaligus tetap dapat dicapai dalam kerangka waktu yang jelas.
Untuk menggambarkan pendekatan tersebut, Huda membagikan pengalaman kampanye Green Ramadan. Visi jangka panjang program ini adalah mendorong masjid, sekolah, dan komunitas Muslim mengadopsi praktik yang ramah lingkungan. Namun pada tahap awal, misi difokuskan pada tiga hingga lima masjid agar dampaknya dapat dipantau dan dievaluasi secara konkret. “Visi boleh besar, tetapi misi harus praktis, dapat dilakukan, dan terukur,” ujarnya.
Menanggapi kerangka tersebut, Dr. Samsul Hidayat memaparkan rencana program percontohan yang tengah dipertimbangkannya, berfokus pada pedagang takjil—makanan atau minuman ringan yang biasa dikonsumsi untuk berbuka puasa. Program ini akan melibatkan tiga hingga lima pedagang untuk secara bertahap beralih dari kemasan plastik sekali pakai menuju alternatif yang lebih ramah lingkungan selama dua minggu pertama Ramadan.
Samsul menjelaskan bahwa program tersebut akan dilengkapi indikator yang jelas, seperti pengurangan harian penggunaan plastik dan perubahan jenis kemasan yang digunakan. Ia juga meminta masukan apakah desain tersebut sudah mencerminkan keseimbangan antara visi ambisius dan implementasi realistis, serta aspek apa yang perlu diperkuat agar program dapat diperluas ke wilayah lain.
Merespons hal itu, Huda menyoroti persoalan besar lain selama Ramadan, yakni penggunaan botol air minum plastik saat berbuka puasa. Ia merekomendasikan pemasangan stasiun isi ulang air dan mendorong jamaah membawa botol minum yang dapat digunakan kembali serta diberi label nama. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menekan penggunaan botol plastik sekali pakai.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program dapat diukur melalui penghitung digital pada stasiun isi ulang yang mencatat frekuensi penggunaan dan memperkirakan jumlah botol plastik yang berhasil dihindari. Sisa botol plastik yang masih digunakan diarahkan ke tempat sampah khusus daur ulang, bukan ke tempat pembuangan akhir.
Selain pengurangan plastik, Huda juga menekankan pentingnya pengelolaan sisa makanan melalui praktik komposting. Sisa makanan dikumpulkan dalam wadah khusus untuk diolah menjadi kompos yang menyuburkan tanah dan mendukung produksi pangan yang lebih sehat. Praktik ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat hubungan sirkular antara dapur, tanah, kebun, dan kesehatan komunitas.
Samsul menyambut baik gagasan tersebut dan menilai bahwa penggabungan nilai-nilai keagamaan dengan langkah-langkah praktis akan lebih mudah diterima masyarakat. Ia menekankan bahwa ajaran agama tentang larangan berlebihan, kewajiban menjaga bumi, dan tanggung jawab sosial menjadi landasan etis yang kuat untuk perubahan perilaku sehari-hari.
Huda juga menggarisbawahi pentingnya pemetaan pemangku kepentingan dalam setiap proyek. Mengidentifikasi siapa yang mendukung, siapa yang berpotensi menghambat, serta bentuk intervensi yang dibutuhkan akan membantu membangun kolaborasi yang efektif dan mengantisipasi tantangan.
Huda Alkaff adalah seorang ekolog dan pendidik lingkungan, serta pendiri dan direktur Wisconsin Green Muslims dan Michigan Green Muslims, kelompok akar rumput yang didirikan pada 2005 untuk menghubungkan iman, keadilan lingkungan, keberlanjutan, dan pemulihan melalui pendidikan dan pelayanan. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi dalam bidang Ekologi Konservasi, Pembangunan Berkelanjutan, serta Pendidikan Sains dan Lingkungan di University of Georgia.
Kiprahnya telah mendapatkan berbagai pengakuan, termasuk White House Champions of Change for Faith Climate Justice Leaders tahun 2015 dari Presiden Barack Obama, Sierra Club Great Waters Environmental Hero of the Year 2016, Wisconsin Association for Environmental Education Eco-Justice Award 2018, Rachel’s Network Catalyst Award 2021, serta berbagai penghargaan lingkungan lainnya hingga 2025.
Selama lebih dari dua dekade, Huda aktif memperjuangkan keadilan lingkungan dengan menginisiasi program Muslim dan lintas iman dalam bidang demokrasi energi dan keadilan air. Ia kini menjabat sebagai Koordinator Faith Communities for the Equitable Solar Initiative yang menghubungkan lebih dari 10.000 orang dari 19 tradisi iman dan latar belakang spiritual yang beragam. Ia juga pernah menjadi salah satu ketua bersama US Climate Action Network 100% Equitable Renewable Energy Action Team.
Di akhir pemaparannya, Huda mengingatkan bahwa gerakan lingkungan berbasis iman tidak harus dimulai dari skala besar. Yang terpenting adalah keberanian memulai dari langkah kecil, konsistensi dalam pelaksanaan, dan kemauan untuk belajar dari proses. Dari langkah-langkah sederhana itulah perubahan yang berkelanjutan dapat tumbuh dan berkembang.