Qufu, Shandong, Tiongkok — Tidak banyak yang mengetahui bahwa salah satu warisan budaya paling terkenal di Kota Qufu berawal dari sebatang pohon yang tumbuh di kawasan Makam Konfusius. Pohon katalpa (kai wood, 楷木) yang menurut tradisi berkaitan dengan murid Konfusius, Zi Gong (子贡), selama berabad-abad menjadi bahan utama seni ukir khas Qufu. Dari kayu inilah lahir ribuan karya yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga memuat pesan moral dan filosofi Konfusianisme yang terus diwariskan hingga hari ini.

Pohon katalpa tua di Qufu menjadi sumber kayu ukiran, melambangkan kesinambungan tradisi, kebijaksanaan, warisan budaya, dan penghormatan kepada Konfusius.
Kesempatan untuk memahami tradisi tersebut saya peroleh saat mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program 2026 yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI). Sebagai salah satu agenda residensi, para visiting scholar dari berbagai negara diajak mengunjungi pusat pelestarian ukiran kayu katalpa Qufu (曲阜楷木雕刻) dan berdialog langsung dengan Kong Fanbiao (孔繁彪), maestro ukiran kayu sekaligus keturunan Konfusius generasi ke-74. Melalui sesi ini, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada sejarah sebuah kerajinan tradisional, tetapi juga diajak memahami bagaimana warisan budaya dipelihara melalui pendidikan, keluarga, dan regenerasi pengrajin.
Dalam pemaparannya, Kong Fanbiao mengawali penjelasan dengan menelusuri asal-usul kayu katalpa yang menjadi identitas seni ukir Qufu. Menurut tradisi yang berkembang di kota ini, pohon katalpa berkaitan dengan Zi Gong, salah seorang murid paling setia Konfusius. Setelah wafatnya sang guru, Zi Gong dipercaya tetap tinggal di sekitar makam Konfusius selama beberapa tahun sebagai bentuk penghormatan. Dalam tradisi lokal, ia juga dikisahkan menanam pohon katalpa yang kemudian tumbuh di kawasan kompleks pemakaman. Seiring berjalannya waktu, kayu dari pohon tersebut dimanfaatkan sebagai bahan ukiran yang dikenal karena seratnya yang padat, teksturnya yang halus, serta daya tahannya yang tinggi. Dari sinilah lahir tradisi ukiran kayu katalpa Qufu, yang hingga kini masih dipertahankan oleh para pengrajin.
Perjalanan panjang seni ukir ini memperlihatkan bahwa sebuah tradisi tidak lahir dalam waktu singkat. Kong Fanbiao menjelaskan bahwa kerajinan kayu katalpa mulai berkembang sejak masa Dinasti Han Barat, kemudian semakin dikenal pada masa Dinasti Song, sebelum mencapai masa kejayaannya pada Dinasti Qing sebagai salah satu kerajinan bernilai tinggi yang bahkan dipersembahkan kepada lingkungan kekaisaran. Pengakuan terhadap kualitas seni ukir Qufu juga tercatat dalam sejarah modern ketika karya-karya ukiran kayu katalpa tampil pada Panama International Exposition tahun 1911. Tonggak penting lainnya terjadi pada 2008, ketika pemerintah Tiongkok menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional (National Intangible Cultural Heritage).
Selain menjelaskan perkembangan seni ukir, Kong Fanbiao juga mengangkat salah satu kisah penting dalam sejarah keluarga Kong, yakni perpindahan patung Konfusius ke wilayah selatan Tiongkok pada masa Dinasti Song Selatan. Ketika situasi politik memaksa keluarga Kong meninggalkan Qufu, Kong Duanyou, keturunan Konfusius generasi ke-48, membawa patung Konfusius yang terbuat dari kayu katalpa menuju Quzhou. Selama hampir delapan abad, patung tersebut dirawat oleh cabang selatan keluarga Kong hingga akhirnya kembali ke Qufu pada era modern. Kisah tersebut menunjukkan bahwa yang diwariskan bukan hanya benda, melainkan juga komitmen keluarga dalam menjaga identitas budaya lintas generasi.

Bersama Kong Fianbao, maestro ukiran kayu katalpa Qufu, yang melestarikan warisan budaya Konfusianisme melalui keterampilan, dedikasi, dan inovasi lintas generasi.
Sosok Kong Fanbiao sendiri menjadi contoh nyata bagaimana tradisi itu terus hidup. Ia berasal dari keluarga pengukir yang telah berkarya sejak 1835, sehingga seni ukir bukanlah profesi yang baru dikenalnya, melainkan bagian dari sejarah keluarganya. Sejak usia muda, ia mempelajari teknik mengukir dari generasi sebelumnya, mengembangkan gaya yang memadukan karakter ukiran Tiongkok Utara dan Selatan, hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu maestro ukiran kayu katalpa paling berpengaruh di Qufu. Berbagai karya yang dihasilkannya memperoleh penghargaan nasional, sekaligus menjadi representasi penting dari seni ukir Konfusianisme kontemporer.
Meski demikian, bagi Kong Fanbiao, keterampilan teknis hanyalah sebagian kecil dari proses menjadi seorang pengukir. Menurutnya, nilai yang paling penting justru terletak pada pembentukan karakter. Hal tersebut dirangkum dalam petuah yang menjadi prinsip hidupnya:
不静不雕,心静则艺精。
“Tanpa ketenangan, tidak akan lahir ukiran; bila hati tenang, seni akan mencapai kesempurnaan.”
Petuah tersebut menjadi penutup presentasinya sekaligus pesan yang paling membekas bagi para peserta. Dalam pandangannya, seorang pengukir tidak boleh hanya mengejar hasil akhir. Setiap pahatan membutuhkan kesabaran, konsentrasi, dan ketenangan batin. Semakin tenang seseorang menghadapi pekerjaannya, semakin halus pula karya yang dihasilkan. Filosofi ini memperlihatkan bahwa seni ukir Qufu bukan sekadar aktivitas artistik, tetapi juga media pendidikan moral yang sejalan dengan nilai-nilai Konfusianisme.

Beragam hasil ukiran kayu katalpa Qufu menampilkan perpaduan keterampilan tradisional, simbol keberuntungan, estetika klasik, dan warisan budaya Konfusianisme.
Komitmen tersebut tercermin pula dalam upayanya membina generasi penerus. Hingga kini Kong Fanbiao telah mendidik lebih dari 120 murid, dengan beberapa di antaranya telah menjadi pengrajin profesional yang membuka studio sendiri. Melalui Yushufang (御书房), pusat pelatihan dan pameran budaya yang dikelolanya, masyarakat dapat menyaksikan langsung proses pembuatan ukiran, mempelajari sejarahnya, sekaligus memahami filosofi yang melandasi setiap karya. Selain mempertahankan teknik tradisional, ia juga mengembangkan ratusan desain baru dan lebih dari 300 produk budaya kreatif agar seni ukir tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan yang difasilitasi Confucius Research Institute (CRI) ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi para peserta residensi internasional. Selama ini, Konfusianisme lebih sering dipahami melalui kitab-kitab klasik, sejarah, atau pemikiran filsafatnya. Namun melalui kunjungan ke pusat pelestarian ukiran kayu katalpa, para peserta dapat melihat bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Tradisi ternyata tidak hanya dipelajari di ruang kelas, tetapi juga diwariskan melalui tangan para pengrajin, keluarga, komunitas, dan institusi budaya yang terus menjaganya.
Bagi saya, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban tidak hanya bertahan karena bangunan bersejarah atau koleksi museum. Peradaban tetap hidup ketika ada manusia yang bersedia merawat nilai-nilai yang diwariskan leluhurnya. Dari sebatang pohon yang tumbuh di kawasan Makam Konfusius, lahirlah sebuah tradisi yang mampu bertahan melintasi dinasti, perubahan politik, hingga era globalisasi. Dan dari tangan seorang maestro bernama Kong Fanbiao, warisan itu terus diteruskan kepada generasi berikutnya—bukan sekadar sebagai seni ukir, melainkan sebagai pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap sejarah.