Oleh; Dr. Samsul Hidayat, MA
(Peserta PREP the Loka Initiative)
Madison, Amerika Serikat (16/02/2026) Setiap hari, jutaan umat Islam di Indonesia melakukan wudhu. Air mengalir di tangan, wajah, dan kaki sebagai simbol penyucian diri sebelum menghadap Tuhan. Wudhu bukan sekadar ritual teknis, tetapi pintu masuk menuju salat—perjumpaan paling intim antara hamba dan Sang Pencipta.
Di tengah krisis lingkungan global, muncul pertanyaan penting: apakah praktik wudhu kita hari ini sudah selaras dengan etika ekologis Islam?
Konsep eco-wudhu hadir sebagai upaya mengembalikan makna wudhu ke akar spiritualnya: ibadah yang menyucikan sekaligus menjaga kehidupan. Ia bukan ajaran baru, melainkan aktualisasi kembali prinsip Islam tentang amanah, keseimbangan, dan larangan pemborosan.
Air sebagai Karunia dan Amanah
Al-Qur’an menegaskan:
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 30)
Ayat ini menempatkan air sebagai fondasi kehidupan. Dalam dimensi spiritual, air juga menjadi medium utama penyucian diri. Namun Islam tidak hanya memuliakan air, tetapi juga mengatur etika penggunaannya.
Allah berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A‘raf [7]: 31)
Nabi Muhammad SAW bahkan menegur Sa‘ad bin Abi Waqqash ketika melihatnya berwudhu dengan air berlebihan:
“Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam menggunakan air.”
Sa‘ad bertanya, “Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?”
Nabi menjawab, “Ya, sekalipun engkau berada di sungai yang mengalir.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini sangat kuat. Ia menegaskan bahwa kesadaran ekologis bukan produk modern, melainkan bagian dari etika kenabian.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi berwudhu hanya dengan sekitar satu mud (±600 ml). Standar profetik inilah yang menjadi fondasi konseptual eco-wudhu.
Pelajaran dari Forum PREP
Dalam forum internasional Preparing Religious Environmental Plans (PREP)—program yang diinisiasi Loka Initiative bekerja sama dengan University of Wisconsin–Madison—isu air menjadi salah satu fokus utama.
Pada forum tersebut, Huda Alkaff, seorang ekolog sekaligus pendiri Wisconsin Green Muslims, menekankan bahwa air memiliki kedudukan spiritual yang sangat kuat dalam Islam dan dapat menjadi pintu masuk paling praktis untuk gerakan lingkungan berbasis iman.
Huda menjelaskan bahwa di Amerika Serikat, bulan Maret diposisikan sebagai “bulan air”, bertepatan dengan World Water Day. Selama periode tersebut, komunitas Muslim diajak merefleksikan kesakralan air sekaligus mengubah kebiasaan sehari-hari—mulai dari wudhu, konsumsi air minum, hingga pengelolaan limbah.
Salah satu inisiatif yang ia paparkan adalah Faith for Rainwater Harvesting (FARAH), sebuah gerakan pemanenan air hujan berbasis iman. Program ini mengintegrasikan:
-
Dimensi spiritual: air sebagai rahmat Tuhan
-
Dimensi sosial: berbagi praktik antar komunitas
-
Dimensi teknis: pembangunan sistem penampungan dan filtrasi air hujan
Di beberapa wilayah miskin perkotaan, air hujan yang ditampung digunakan untuk kebun komunitas dan kebutuhan dasar, bahkan dikombinasikan dengan energi surya. Hasilnya bukan hanya konservasi air, tetapi juga ketahanan pangan dan kohesi sosial.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari praktik spiritual sederhana.
Kelimpahan yang Meninabobokan
Indonesia dikenal sebagai negeri dengan curah hujan tinggi. Di banyak tempat, air terasa mudah diakses. Kelimpahan ini tanpa disadari membentuk mentalitas “air tidak akan habis”.
Akibatnya, kesadaran hemat air sering rendah.
Padahal perubahan iklim telah mengganggu pola hujan, memperpanjang musim kemarau, dan meningkatkan risiko krisis air di sejumlah wilayah. Pencemaran juga terus menurunkan kualitas air bersih.
Eco-wudhu menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Ia menjadikan ibadah harian sebagai ruang latihan kesadaran ekologis.
Masjid sebagai Laboratorium Eco-Wudhu
Masjid memiliki posisi strategis untuk membangun budaya eco-wudhu. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan:
-
Mengatur debit air keran agar tidak berlebihan
-
Memasang poster wudhu hemat air sesuai sunnah
-
Menggunakan keran otomatis jika memungkinkan
-
Menyediakan stasiun isi ulang air minum
Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan secara konsisten, akan membentuk kebiasaan baru.
Sebagaimana ditekankan Huda dalam forum PREP, perubahan perilaku paling efektif ketika dikaitkan langsung dengan ajaran agama dan teladan Nabi, bukan sekadar dengan jargon lingkungan.
Spiritualitas yang Membumi
Eco-wudhu mengajarkan bahwa spiritualitas Islam bersifat membumi. Ia tidak hanya mengarahkan manusia ke langit, tetapi juga menata cara manusia berpijak di bumi.
Menutup keran tepat waktu adalah dzikir ekologis.
Menggunakan air secukupnya adalah ekspresi takwa.
Jika anak-anak dibiasakan memahami bahwa wudhu hemat air adalah sunnah, maka kita sedang menanam fondasi peradaban yang lebih beradab.
Dari Ritual ke Kesadaran Kolektif
Eco-wudhu bukan sekadar praktik personal. Ia adalah pintu menuju kesadaran kolektif.
Dalam konteks Ramadan, ketika intensitas ibadah meningkat, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kebiasaan baru. Jika Ramadan mampu mengubah pola makan dan pola tidur, ia juga mampu mengubah cara kita memperlakukan air.
Pada akhirnya, eco-wudhu mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk relasi yang adil dengan alam.
Kesucian bukan hanya soal bersihnya tubuh.
Ia juga tentang bersihnya cara kita memperlakukan bumi.
Dan mungkin, dari satu wudhu yang hemat air, kita sedang memulai jalan panjang menuju peradaban yang lebih beradab.

Eco-Wudu: Restoring the Sacredness of Water in Worship and Everyday Life
Every day, millions of Muslims in Indonesia perform wudu. Water flows over hands, faces, and feet as a symbol of purification before standing in prayer. Wudu is not merely a technical ritual; it is the gateway to salah—the most intimate encounter between a servant and the Creator.
Amid the global environmental crisis, an important question arises: are our everyday practices of wudu aligned with Islamic ecological ethics?
The concept of eco-wudu emerges from the awareness that worship should never be separated from the responsibility to care for the Earth. It is not a new theological invention, but a return to Islam’s foundational teachings on trust (amanah), balance (mizan), and restraint.
Water as a Divine Gift and Trust
The Qur’an declares:
“And We made from water every living thing.”
(Qur’an 21:30)
Water is the source of life and a symbol of divine mercy. At the same time, Islam firmly warns against excess.
“Eat and drink, but do not be excessive. Indeed, God does not love those who commit excess.”
(Qur’an 7:31)
The Prophet Muhammad (peace be upon him) once advised a companion who was using too much water for ablution:
“Do not waste water.”
The companion asked, “Even when performing wudu?”
The Prophet replied, “Yes, even if you are at a flowing river.”
(Reported by Ahmad and Ibn Majah)
This prophetic teaching is strikingly relevant today. It shows that ecological consciousness is deeply embedded in Islamic ethics. Historical narrations indicate that the Prophet performed wudu with only about one mudd (roughly 600 milliliters). This prophetic standard provides a strong foundation for the idea of eco-wudu.
Insights from the PREP Forum
At the international Preparing Religious Environmental Plans (PREP) forum—initiated by the Loka Initiative in collaboration with the University of Wisconsin–Madison—water emerged as one of the central themes in faith-based environmental action.
During the forum, ecologist and founder of Wisconsin Green Muslims, Huda Alkaff, emphasized that water holds profound spiritual significance in Islam and can serve as one of the most practical entry points for religious environmental initiatives.
She explained that in the United States, March is framed as a “water month,” coinciding with World Water Day. Throughout the month, Muslim communities are invited to reflect on the sacredness of water while adopting new daily habits related to wudu, drinking water, and waste reduction.
One initiative highlighted was Faith for Rainwater Harvesting (FARAH), a faith-based movement promoting the collection and use of rainwater. FARAH integrates three dimensions:
-
Spiritual: water as a blessing from God
-
Social: sharing practices across communities
-
Technical: building rainwater harvesting and filtration systems
In several low-income urban areas, harvested rainwater is used for community gardens and basic needs, sometimes powered by solar energy. The result is not only water conservation, but also improved food security and stronger social cohesion.
These experiences demonstrate that large-scale change can grow from simple spiritual practices.
Abundance That Lulls Awareness
Indonesia is often perceived as a water-rich country. Rainfall is high, rivers are widespread, and groundwater remains accessible in many areas. This sense of abundance can create the illusion that water will always be available.
As a result, public awareness about water conservation tends to be low.
Yet climate change is already altering rainfall patterns, extending dry seasons, and increasing the risk of water scarcity in several regions. Pollution further reduces the quality of available freshwater.
In this context, eco-wudu becomes highly relevant. It transforms a daily act of worship into a training ground for ecological awareness.
Mosques as Laboratories of Eco-Wudu
Mosques occupy a strategic position in shaping collective habits. Several simple measures can nurture a culture of eco-wudu:
-
Regulating water pressure at ablution areas
-
Installing posters on prophetic, water-saving wudu
-
Using automatic or low-flow faucets where possible
-
Providing refill stations for drinking water
Small steps, when practiced consistently, can produce significant collective impact.
As emphasized in the PREP forum, behavioral change is most effective when linked directly to religious teachings and prophetic example—not merely to environmental slogans.
Grounded Spirituality
Eco-wudu reminds us that Islamic spirituality is grounded. It does not only lift humans toward the heavens; it also teaches them how to walk gently upon the Earth.
Turning off the tap on time becomes an ecological form of remembrance.
Using water in moderation becomes an expression of taqwa.
If children grow up learning that water-saving wudu is part of the Sunnah, we are nurturing a generation whose faith naturally includes care for the planet.
From Ritual to Collective Consciousness
Eco-wudu is not only about individual discipline. It is a pathway toward collective awareness.
During Ramadan, when the intensity of worship increases, this moment can be used to cultivate lasting habits. If Ramadan can transform eating and sleeping patterns, it can also transform how we treat water.
Ultimately, eco-wudu teaches that worship connects humans not only to God, but also to a just relationship with nature.
Purity is not only about clean bodies.
It is also about clean ways of living on Earth.
Perhaps, from a single mindful act of wudu, we begin a long journey toward a more ethical and compassionate civilization.