Oleh: Samsul Hidayat (朱启明)

Dosen dan Peneliti Studi Agama-Agama, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Qufu, Shandong– Kesempatan mengikuti Program Kunjungan Akademik dan Penelitian Qilu (齐鲁访学驻研计划) di Confucius Research Institute, Qufu, membuka pengalaman yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Selain mengikuti berbagai kegiatan akademik mengenai pemikiran Konfusius dan peradaban Tiongkok, saya juga berkesempatan mengunjungi ruang arsip Masjid Qufu, sebuah ruang sederhana yang menyimpan berbagai dokumen, manuskrip, dan jejak sejarah komunitas Muslim di kota kelahiran Konfusius itu.

Di salah satu sudut ruangan, dua foto dipasang berdampingan di dalam sebuah bingkai. Sekilas tidak ada yang istimewa. Yang pertama memperlihatkan seorang laki-laki mengenakan busana resmi Dinasti Qing dengan raut wajah yang tenang dan penuh wibawa. Sementara foto di sebelahnya menampilkan seorang lelaki lanjut usia yang duduk bersama istri dan anggota keluarganya dalam suasana yang jauh lebih modern. Bagi pengunjung biasa, keduanya mungkin hanya tampak sebagai dokumentasi keluarga. Namun, setelah membaca keterangan yang menyertainya, saya menyadari bahwa dua foto itu sesungguhnya sedang menceritakan sebuah kisah panjang tentang bagaimana sebuah peradaban menjaga ingatan lintas generasi.

Foto di sebelah kiri adalah Kong Lingyi, keturunan Konfusius generasi ke-75 yang hidup pada akhir Dinasti Qing. Adapun foto di sebelah kanan memperlihatkan Kong Decheng, keturunan Konfusius generasi ke-77, bersama keluarganya pada abad ke-20. Kedua foto itu dipisahkan oleh rentang waktu puluhan tahun, tetapi dihubungkan oleh satu benang merah yang sama, yakni kesinambungan silsilah keluarga yang terus dipelihara hingga hari ini.

Foto 1. Dokumentasi di ruang arsip Masjid Qufu memperlihatkan potret Kong Lingyi (kiri), keturunan Konfusius generasi ke-75, dan Kong Decheng bersama keluarga (kanan), keturunan generasi ke-77. Kedua foto tersebut menjadi bukti visual bahwa tradisi pencatatan silsilah (zupu) terus diperbarui lintas generasi sehingga garis keturunan keluarga Kong masih dapat ditelusuri hingga masa kini.

Pemandangan itu memunculkan pertanyaan yang terus menggelitik pikiran saya. Mengapa dokumentasi keluarga Konfusius justru dipajang di ruang arsip sebuah masjid? Pertanyaan tersebut kemudian membawa saya mengenal lebih dekat tradisi zupu () atau jiapu (), yaitu buku silsilah keluarga yang telah menjadi bagian penting dari kebudayaan Tiongkok selama berabad-abad.

Bagi masyarakat Tiongkok, silsilah bukan sekadar daftar nama yang mencatat siapa ayah, anak, atau cucu. Di dalamnya tersimpan asal-usul leluhur, perpindahan keluarga dari satu wilayah ke wilayah lain, tokoh-tokoh yang berjasa bagi keluarga, hingga pesan-pesan moral yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan kata lain, zupu merupakan arsip kehidupan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah keluarga.

Tradisi itu dipelihara dengan sangat serius oleh keluarga Kong. Hingga kini, silsilah keluarga Konfusius telah diperbarui berkali-kali sehingga mampu mencatat lebih dari delapan puluh generasi keturunan. Tidak banyak keluarga di dunia yang memiliki dokumentasi sepanjang dan serapi itu. Karena itulah keluarga Kong sering disebut sebagai salah satu keluarga dengan garis silsilah terdokumentasi paling panjang dalam sejarah manusia.

Yang menarik, zupu ternyata bukan sekadar dokumen administratif. Ia adalah cara sebuah peradaban merawat ingatan kolektif. Setiap nama yang dicatat bukan hanya menunjukkan hubungan darah, melainkan juga menjadi penghubung nilai, tanggung jawab, dan identitas yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dalam konteks inilah, foto-foto keluarga memperoleh maknanya. Ia bukan sekadar pelengkap album kenangan, melainkan bukti visual bahwa sejarah keluarga terus hidup bersama para pewarisnya.

Melihat dokumentasi tersebut, pikiran saya justru melayang kepada tradisi Islam. Dalam khazanah Islam dikenal dua konsep penting yang sama-sama menekankan pentingnya kesinambungan, yaitu nasab dan sanad. Nasab menjaga kesinambungan hubungan keluarga, sedangkan sanad memastikan bahwa ilmu ditransmisikan melalui mata rantai guru yang jelas hingga bersambung kepada Rasulullah SAW. Meskipun lahir dari tradisi budaya yang berbeda, keduanya bertemu pada satu prinsip yang sama: sesuatu yang bernilai harus diwariskan melalui jalur yang dapat dipertanggungjawabkan.

Islam sendiri tidak memandang nasab sebagai alat untuk meninggikan martabat keturunan. Sebaliknya, mengenal nasab bertujuan menjaga silaturahmi, memenuhi hak-hak keluarga, dan memperkuat tanggung jawab antargenerasi. Hal yang sama berlaku pada sanad. Para ulama sejak masa klasik rela melakukan perjalanan lintas negeri demi memastikan bahwa ilmu yang mereka terima memiliki mata rantai transmisi yang sahih. Karena itulah sanad menjadi salah satu pilar yang menjaga otentisitas tradisi keilmuan Islam hingga hari ini.

Refleksi itu semakin terasa ketika mengamati komunitas Muslim Hui di Tiongkok. Banyak keluarga Hui tetap mempertahankan tradisi penyusunan zupu, tetapi mereka melengkapinya dengan sejarah masuknya Islam ke dalam keluarga, nama para imam, ulama, pendiri masjid, serta tokoh-tokoh yang berjasa mengembangkan pendidikan Islam. Dengan demikian, zupu tidak hanya menjadi arsip keluarga, tetapi juga merekam perjalanan keagamaan sebuah komunitas dari generasi ke generasi.

Foto 2. Kehadiran dokumentasi keluarga Konfusius di ruang arsip Masjid Qufu memperlihatkan bahwa ruang keagamaan di kota ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pelestarian sejarah, budaya, dan memori kolektif masyarakat Muslim setempat (Saya bersama H. Irsa Imam Masjid Qufu).

Di tengah kehidupan yang semakin digital, kita mungkin lebih mudah melacak jejak seseorang melalui media sosial daripada mengenali kisah para leluhur kita sendiri. Ribuan foto tersimpan di telepon genggam, tetapi tidak sedikit orang yang bahkan tidak mengetahui nama buyut atau asal-usul keluarganya. Semakin mudah mengabadikan momen, semakin besar pula risiko kita kehilangan ingatan tentang akar yang membentuk jati diri.

Pengalaman di ruang arsip Masjid Qufu memberikan pelajaran yang sederhana, tetapi bermakna. Sebuah peradaban tidak hanya bertahan karena kemajuan teknologi atau kemegahan bangunannya, melainkan karena kemampuannya menjaga ingatan kolektif. Tiongkok melakukannya melalui zupu, sedangkan Islam merawatnya melalui nasab dan sanad. Jalan yang ditempuh memang berbeda, tetapi keduanya mengajarkan pesan yang sama: masa depan hanya akan kokoh apabila hubungan dengan masa lalu tetap terpelihara. Barangkali itulah makna terdalam yang tersimpan di balik dua foto sederhana di ruang arsip Masjid Qufu—bahwa peradaban yang besar bukanlah peradaban yang melupakan sejarahnya, melainkan peradaban yang mampu mewariskan nilai dan identitas kepada generasi berikutnya.

 

Categories: Artikel