Oleh: Dr. Samsul Hidayat, MA
(Ketua MUI Propinsi Kalimantan Barat)
Pontianak (18/02/2026) Setiap kali Ramadan atau Idulfitri tiba, pertanyaan yang sama kembali muncul di ruang publik: “Kalau bulannya satu, kenapa tanggalnya bisa dua?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan jenaka. Namun di baliknya tersembunyi persoalan serius tentang cara manusia memahami waktu, langit, dan otoritas pengetahuan keagamaan.
Secara alamiah, Bulan hanya satu. Ia mengitari bumi dengan ritme yang sama untuk semua manusia. Tidak ada “bulan Indonesia” dan “bulan Arab”. Yang berbeda bukan bulannya, melainkan cara kita menandai awal waktunya.
Bulan sebagai Fenomena Alam
Dalam astronomi, pergantian bulan berkaitan dengan satu peristiwa kosmik: ijtimak, saat Bulan dan Matahari berada pada satu garis bujur. Peristiwa ini terjadi satu kali dan serentak untuk seluruh bumi. Tidak ada ijtimak versi barat dan versi timur.
Dari sudut pandang sains, di titik inilah bulan baru “lahir”.
Jika demikian, secara alamiah sebenarnya tidak ada ruang bagi dua bulan dalam satu waktu. Yang ada hanyalah satu bulan dengan satu momen kelahiran.
Tanggal adalah Produk Manusia
Masalahnya, manusia tidak hidup di ruang hampa kosmik. Kita hidup dengan jam, kalender, zona waktu, dan batas wilayah. Tanggal bukan fakta alam, melainkan kesepakatan sosial.
Di sinilah perbedaan mulai muncul.
Sebagian umat Islam menggunakan pendekatan rukyat, yakni menunggu terlihatnya hilal di suatu wilayah setelah matahari terbenam. Pendekatan ini sangat kontekstual dan lokal. Cuaca, posisi geografis, dan batas ufuk menjadi penentu.
Sebagian lain menggunakan pendekatan hisab global, seperti Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dikembangkan dan digunakan oleh Muhammadiyah. Dalam pendekatan ini, awal bulan ditetapkan berdasarkan peristiwa astronomi global, bukan visibilitas lokal.
Hasilnya bisa berbeda. Bulannya satu, tetapi tanggalnya bisa dua.
Bukan Soal Benar atau Salah
Perlu ditegaskan: ini bukan soal siapa paling benar atau paling ilmiah. Ini soal paradigma.
Rukyat berpijak pada epistemologi pengalaman. Pengetahuan dianggap sah ketika fenomena benar-benar terlihat dan disaksikan. Waktu dipahami melalui pengalaman lokal: magrib, langit, dan mata manusia.
Hisab global berpijak pada epistemologi kosmik. Pengetahuan diperoleh melalui perhitungan presisi dan hukum alam. Waktu dipahami sebagai realitas objektif yang melampaui batas wilayah.
Keduanya sama-sama rasional dalam kerangka masing-masing.
Mengapa Perbedaan Ini Terasa Mengganggu?
Karena ibadah bukan sekadar urusan personal. Ia bersifat sosial dan simbolik. Puasa dan lebaran adalah pengalaman kolektif. Ketika tanggal berbeda, rasa kebersamaan seolah terganggu.
Namun sering kali yang membuat perbedaan ini terasa tajam bukan metodenya, melainkan cara kita menyikapinya. Ketika satu metode diperlakukan sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, yang lain otomatis dianggap salah.
Padahal sejak awal sejarah Islam, perbedaan penetapan waktu sudah dikenal dan diterima sebagai bagian dari ijtihad.
Bulan Satu, Jalan Membacanya Beragam
Jika disederhanakan, persoalannya begini:
Bulan itu satu. Langit itu satu. Tetapi manusia membaca langit dengan alat, tradisi, dan logika yang berbeda.
Perbedaan tanggal sejatinya menunjukkan bahwa umat Islam sedang berada dalam proses transisi: dari sistem lokal-tradisional menuju kesadaran global-ilmiah, atau sebaliknya, sambil tetap menjaga akar pengalaman religius.
Ini bukan kegagalan, melainkan dinamika.
Menuju Kedewasaan Beragama
Alih-alih terus bertanya “siapa yang salah”, mungkin pertanyaan yang lebih dewasa adalah:
bagaimana perbedaan ini bisa dikelola tanpa merusak persaudaraan?
Selama umat masih bisa berpuasa dengan khusyuk, berlebaran dengan saling menghormati, dan memahami bahwa perbedaan tanggal lahir dari perbedaan cara membaca waktu, maka bulannya tetap satu—dan umatnya tetap satu.
Tanggal boleh berbeda.
Tujuannya sama.