Oleh: Samsul Hidayat (朱启明)
Dosen dan Peneliti Studi Agama-Agama, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Indonesia. Saat ini merupakan Visiting Scholar Program Kunjungan Akademik dan Penelitian Qilu (齐鲁访学驻研计划), Confucius Research Institute, Qufu, Shandong, Tiongkok.

Berapa banyak orang Indonesia yang menyadari bahwa kata-kata seperti mie, tahu, tauge, bakso, kecap, tauke, kongsi, loteng, gincu, dan cawan ternyata memiliki akar dari bahasa Tionghoa?

Sebagian besar dari kita menggunakannya setiap hari tanpa pernah mempertanyakan asal-usulnya. Padahal, kata-kata itu menyimpan kisah panjang tentang hubungan antara dunia Melayu dan Tiongkok yang telah berlangsung selama berabad-abad. Sebelum ada hubungan diplomatik modern, bahkan sebelum lahirnya negara-bangsa seperti yang kita kenal sekarang, masyarakat di kedua kawasan telah saling bertemu melalui jalur perdagangan maritim. Mereka tidak hanya memperdagangkan sutra, keramik, teh, dan rempah-rempah, tetapi juga membawa bahasa, kebiasaan, dan budaya.

Bahasa, rupanya, lebih jujur daripada sejarah politik. Jika dokumen diplomasi mencatat hubungan antarnegara, maka bahasa merekam hubungan antarmanusia. Setiap kata serapan adalah bukti bahwa orang-orang pernah hidup berdampingan, berdagang, berbincang, dan saling memengaruhi.

Jejak itu paling mudah ditemukan di meja makan. Kata mie berasal dari dialek Hokkien 麵 (mī) yang berarti mi. Tahu berasal dari 豆腐 (tāu-hū), sedangkan tauge berasal dari 豆芽 (tāu-gê) yang berarti kecambah. Bahkan bakso, makanan yang kini dianggap begitu Indonesia, diyakini berasal dari istilah Hokkien 肉酥 (bah-so) yang merujuk pada olahan daging. Di dapur kita juga mengenal kecap, yang oleh banyak ahli bahasa ditelusuri berasal dari istilah Hokkien kê-tsiap, yaitu saus hasil fermentasi. Menariknya, kata yang sama kemudian ikut berlayar ke Eropa dan berkembang menjadi ketchup dalam bahasa Inggris.

Hubungan itu juga tampak dalam dunia perdagangan. Kata tauke berasal dari 頭家 (thâu-ke) yang berarti kepala keluarga atau pemilik usaha. Sementara kongsi berasal dari 公司 (kong-si) yang berarti perusahaan atau persekutuan. Dalam bahasa Melayu, maknanya berkembang menjadi bekerja sama atau berbagi usaha. Kedua kata ini mengingatkan bahwa hubungan ekonomi antara pedagang Tionghoa dan masyarakat Nusantara telah berlangsung jauh sebelum konsep perdagangan global dikenal.

Jejak serupa hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kata loteng berasal dari 樓頂 (lâu-téng) yang berarti bagian atas rumah. Gincu berasal dari 銀朱 (gîn-chu), pigmen merah yang dahulu digunakan sebagai pewarna, sedangkan cawan berasal dari 茶碗 (tê-oán) yang berarti mangkuk atau cangkir teh. Beberapa kata lain juga sering dikaitkan dengan bahasa Tionghoa, seperti kuli yang diduga berasal dari 苦力 (khǔlì), meskipun asal-usulnya masih diperdebatkan. Demikian pula kata pisau, yang oleh sebagian ahli bahasa dihubungkan dengan 匕首 (bǐshǒu), tetapi etimologinya belum mencapai kesepakatan.

Yang menarik, semua kata tersebut telah melebur begitu alami dalam bahasa Indonesia sehingga hampir tidak ada lagi yang menganggapnya sebagai kata asing. Bahasa ternyata tidak mengenal paspor, tidak membutuhkan visa, dan tidak pernah bertanya tentang etnis atau agama sebelum menerima sebuah kosakata baru. Ketika sebuah kata dianggap berguna, masyarakat akan mengadopsinya, menyesuaikan pengucapannya, lalu menjadikannya bagian dari identitas bersama.

Selama mengikuti Program Kunjungan Akademik dan Penelitian Qilu (齐鲁访学驻研计划) di Qufu Shandong Tiongkok, saya semakin merasakan bagaimana bahasa dan budaya saling bertaut dalam kehidupan sehari-hari. Di hampir setiap pertemuan akademik, secangkir teh selalu menjadi pembuka percakapan. Tanpa disadari, wadah kecil tempat menyajikan teh itu pun membawa kisah sejarah. Kata cawan yang begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia ternyata berasal dari bahasa Tionghoa. Sebuah kata sederhana yang diam-diam menjadi pengingat bahwa hubungan kedua peradaban telah terjalin jauh melampaui hubungan politik modern.

Foto 1. Cawan teh menyimpan jejak peradaban, sebagaimana katanya diwariskan dari bahasa Tionghoa ke bahasa Melayu.

Pengalaman serupa saya rasakan ketika menikmati semangkuk mi di Qufu. Rasanya mungkin berbeda dengan mi yang biasa kita santap di Indonesia, tetapi namanya tetap sama. Kata mie telah menempuh perjalanan panjang bersama para pedagang dan perantau Tionghoa hingga menjadi bagian dari kosakata Melayu. Dari satu mangkuk sederhana, kita belajar bahwa perpindahan budaya tidak selalu berlangsung melalui buku sejarah, melainkan juga melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Foto 2. Semangkuk mie mengingatkan bahwa bahasa, kuliner, dan peradaban Tiongkok telah lama menyapa Nusantara.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan Nusantara dan Tiongkok tidak hanya dibangun oleh perdagangan barang, tetapi juga oleh pertukaran budaya yang berlangsung secara alami. Yang berpindah bukan hanya teh, porselen, atau sutra, melainkan juga kata-kata, cara hidup, dan pengetahuan. Bahasa menjadi arsip hidup yang menyimpan memori tentang perjumpaan antarmanusia selama ratusan tahun.

Di tengah semakin eratnya hubungan Indonesia dan Tiongkok pada masa kini, kisah di balik kata-kata tersebut layak untuk kembali dikenang. Ia mengingatkan bahwa dialog antarperadaban bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum ada kedutaan besar, forum kerja sama, atau nota kesepahaman, masyarakat kedua kawasan telah membangun jembatan melalui perdagangan, kuliner, dan bahasa.

Barangkali di situlah kekuatan bahasa. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan penjaga ingatan kolektif. Setiap kali kita menikmati semangkuk mie, mencicipi bakso dengan kecap, menyeruput teh dari sebuah cawan, atau menyebut seorang tauke yang membangun kongsi, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali jejak sejarah panjang hubungan Melayu dan Tiongkok. Bahasa, pada akhirnya, tidak hanya menghubungkan kata dengan makna, tetapi juga menghubungkan manusia dengan peradabannya.

Categories: Artikel