Pontianak, [3/3/2025] — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2A Pontianak menjadi saksi peluncuran inovatif “Terapi Asmaul Husna” yang diperkenalkan oleh Dr. Samsul Hidayat, MA, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat. Terapi ini merupakan pendekatan spiritual yang menggunakan 99 nama indah Allah (Asmaul Husna) sebagai metode rehabilitasi bagi warga binaan.

Acara pembukaan Pesantren Ramadhan 2025 ini turut dihadiri oleh Aswan, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PW Muhammadiyah Kalbar, dan dibuka secara resmi oleh Kalapas 2A Pontianak yang diwakili oleh Bapak Untung. Kegiatan ini bertujuan memberikan pembinaan spiritual dan membangun mental positif warga binaan melalui metode “Releasing” (melepaskan) dan “Welcoming” (menyambut) dalam bingkai dzikir dan pemahaman mendalam terhadap Asmaul Husna.

Melepaskan Beban Melalui Konsep ‘Releasing’

Dalam ceramahnya, Dr. Samsul Hidayat menjelaskan bahwa terapi ini membantu narapidana melepaskan rasa bersalah, dendam, dan ketakutan. “Konsep ‘Releasing’ berarti melepaskan beban batin dengan dzikir tertentu yang sesuai dengan kondisi psikologis warga binaan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, bagi narapidana yang merasa bersalah, dzikir dengan menyebut “Ya Tawwab” (Yang Maha Penerima Taubat) secara berulang-ulang akan membantu merasakan pengampunan Allah. “Dzikir ini diharapkan dapat memvisualisasikan rasa bersalah yang terlepas dari hati dan digantikan dengan ketenangan batin,” tambahnya.

Sedangkan untuk mereka yang terbebani oleh dendam, dzikir “Ya ‘Afuww” (Yang Maha Pemaaf) akan menjadi sarana untuk membangun sikap pemaaf. Begitu pula bagi yang mengalami ketakutan menghadapi masa depan, dzikir “Ya Mu’min” (Yang Maha Memberi Keamanan) akan memberikan rasa aman dan perlindungan dari Allah.

Menyambut Kehidupan Baru dengan Konsep ‘Welcoming’

Tidak hanya melepaskan beban batin, terapi ini juga membangun sikap menerima keadaan, membangun harapan baru, dan mengembangkan rasa syukur melalui dzikir Asmaul Husna.

“Ketika menghadapi tekanan kehidupan di penjara, dzikir ‘Ya Sabur’ (Yang Maha Sabar) akan membantu warga binaan menerima keadaan dengan ikhlas,” jelas Dr. Samsul Hidayat. Ia menambahkan bahwa dzikir ‘Ya Fattah’ (Yang Maha Membuka Pintu Kebaikan) juga dapat membuka hati untuk menerima peluang baru setelah bebas dari penjara.

Terakhir, konsep rasa syukur dikembangkan melalui dzikir ‘Ya Syakur’ (Yang Maha Mensyukuri). “Melalui rasa syukur, mereka diajak untuk melihat sisi positif dalam setiap keadaan dan membangun optimisme hidup,” tuturnya.

Membangun Kebiasaan Harian yang Positif

Terapi Asmaul Husna juga diimplementasikan dalam rutinitas harian narapidana. Setiap pagi, mereka dianjurkan untuk memulai hari dengan dzikir “Ya Mu’min” untuk melepaskan rasa cemas. Sebelum tidur, dzikir “Ya Syakur” menjadi refleksi rasa syukur atas nikmat yang telah diterima hari itu.

Dalam setiap kesempatan menghadapi konflik atau emosi negatif, warga binaan diingatkan untuk berdzikir “Ya ‘Afuww” guna membangun sikap pemaaf dan membersihkan hati dari kebencian.

Dukungan dari Pihak Lapas

Kalapas 2A Pontianak yang diwakili oleh Bapak Untung dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif ini. “Kami berharap program ini tidak hanya memberikan dampak positif selama warga binaan berada di dalam lapas, tetapi juga menjadi bekal spiritual yang kuat saat mereka kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Program ini juga didukung penuh oleh Lembaga Dakwah Komunitas PW Muhammadiyah Kalbar. Aswan selaku ketua lembaga tersebut menambahkan, “Melalui pendekatan spiritual ini, diharapkan warga binaan mampu memperbaiki diri, mengikis dendam, dan membangun harapan baru.”

Harapan dan Manfaat Terapi Asmaul Husna

Dengan adanya Terapi Asmaul Husna ini, diharapkan tidak hanya memberikan kedamaian batin bagi para narapidana, tetapi juga membangun fondasi mental yang kuat dalam menghadapi kehidupan baru setelah menjalani masa hukuman. Konsep rehabilitasi spiritual ini menjadi langkah inovatif dalam dunia pemasyarakatan, menunjukkan bahwa pendekatan agama dan dzikir dapat menjadi solusi efektif dalam proses penyembuhan jiwa dan penguatan karakter.

“Semoga melalui terapi ini, para warga binaan dapat menjalani hidup dengan hati yang tenang, mampu memaafkan diri sendiri dan orang lain, serta menyongsong masa depan dengan penuh harapan,” tutup Dr. Samsul Hidayat dalam ceramahnya.

 

Categories: Artikel